CERAKEN.ID — “Dokter Jack meninggal dunia.”
Kalimat pendek itu menyebar cepat pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Kabar duka kemudian beredar melalui akun resmi Pemerintah Kota Mataram dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Banyak orang terdiam ketika membaca berita tersebut. Sosok yang selama ini dikenal hangat dan komunikatif itu berpulang di Metropolitan Medical Center, Rasuna Said, Jakarta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia adalah Lalu Herman Mahaputera, sebelumnya Direktur Utama RSUD Provinsi NTB dan kini kepala BAPENDA provinsi NTB, yang akrab disapa dr. Jack. Di balik jabatan administratifnya sebagai pimpinan rumah sakit, saat itu, dr. Jack dikenal sebagai figur yang percaya bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menyangkut keahlian medis, tetapi juga kepercayaan publik.
Kabar kepergiannya menghadirkan kembali berbagai kenangan. Salah satunya masih terasa dekat: obrolan singkat pada 18 Februari lalu, ketika saling bertegur sapa menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Percakapan sederhana itu kini terasa seperti potongan kecil dari ingatan yang tiba-tiba menjadi sangat berharga.
Kenangan lain muncul dari sebuah forum intelektual beberapa bulan sebelumnya. Pada Kamis, 18 September 2025, di kantor Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Barat, berlangsung bedah buku berjudul “RSUD Provinsi NTB: Model Sukses Badan Publik Informatif” karya Cukup Wibowo. Dalam forum itu, dr. Jack hadir sebagai keynote speaker.
Di hadapan peserta diskusi, ia memaparkan sebuah gagasan yang sederhana, tetapi mendasar: pasien bukan sekadar objek layanan medis. Pasien adalah subjek moral yang berhak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.
Pandangan itu menjadi landasan bagi upaya keterbukaan informasi yang dibangun di rumah sakit yang dipimpinnya. Melalui berbagai inovasi layanan informasi, termasuk program “Halo RSUDP NTB”, rumah sakit tersebut berusaha menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak berhenti pada proses penyembuhan tubuh, tetapi juga merawat kepercayaan masyarakat.
Bagi dr. Jack, keterbukaan informasi publik bukan sekadar kewajiban administratif sebagaimana diatur oleh undang-undang. Ia adalah tindakan etis yang menghidupkan kembali kontrak sosial antara masyarakat dan birokrasi.
Tanpa transparansi, partisipasi publik sulit tumbuh. Masyarakat hanya dapat terlibat jika mereka percaya bahwa institusi negara hadir untuk mereka, bukan sekadar menjalankan prosedur formal yang kaku.
Dalam kerangka itulah sistem Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di RSUD Provinsi NTB dibangun secara terorganisasi.
Melalui mekanisme tersebut, rumah sakit mencoba menunjukkan bahwa tanggung jawab moral dapat melekat pada struktur birokrasi. Keterbukaan bukan lagi sekadar prosedur hukum, tetapi panggilan etis yang menegaskan bahwa birokrasi tidak seharusnya menjadi menara gading yang jauh dari masyarakat.
Dalam pandangan dr. Jack, birokrasi yang terbuka adalah ruang dialog. Di dalamnya, kebenaran dan keadilan dipertaruhkan setiap hari melalui pelayanan publik yang jujur dan akuntabel.
Dengan keterbukaan, kata dr. Jack dalam forum itu, birokrasi tidak lagi menjadi struktur dingin yang penuh formulir dan prosedur. Ia berubah menjadi ruang moral tempat martabat manusia dihargai. Teknologi tidak lagi menjadi alat yang menjauhkan manusia dari manusia lainnya, tetapi jembatan solidaritas yang menghubungkan institusi dengan masyarakat.
Dalam kerangka itu pula, gagasan tentang pemerintahan yang baik dan bersih, good governance and clean government, tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ia harus hadir sebagai pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat dalam pelayanan sehari-hari.
RSUD Provinsi NTB, menurutnya, hanya mencoba memberi teladan kecil tentang kemungkinan itu. Sebuah contoh bahwa birokrasi dapat bekerja secara transparan tanpa kehilangan efisiensi, dan melayani tanpa kehilangan martabat.
Kini, suara yang pernah menyampaikan gagasan tersebut telah berhenti. Namun pemikiran dan teladan yang ditinggalkannya tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang reformasi birokrasi di daerah.
Kepergian dr. Jack bukan sekadar kehilangan seorang dokter atau pejabat publik. Ia juga kehilangan seorang pengingat bahwa pelayanan kesehatan, pada akhirnya, adalah kerja kemanusiaan.
Selamat jalan, dr. Jack.
Semoga husnul khatimah, ditempatkan di sisi terbaik di hadapan Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan.
Aamiin ya rabbal alamin. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































