CERAKEN.ID — Suasana Ramadhan sering menghadirkan cara-cara sederhana namun penuh makna untuk menyampaikan pesan kehidupan. Salah satunya melalui pantun, tradisi lisan yang sejak lama hidup dalam budaya Melayu.
Dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan Silaturahmi Ramadhan Keluarga Besar BPMP Nusa Tenggara Barat, Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman membuka tausiyahnya dengan sebuah pantun yang mengundang perenungan.
“Hujan turun amat derasnya,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Duduk berdua dalam kereta,
Indah dunia ada batasnya,
Akhirat jua tempat pulang kita.”
Pantun tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Wijayakusuma BPMP NTB pada Jumat (13/03/2026) di Mataram. Dengan gaya tutur yang sederhana namun reflektif, ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Karena itu, manusia perlu menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang lebih abadi di akhirat.
Dalam tausiyahnya, TGH Mujiburrahman mengajak umat Islam memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperkuat ibadah dan memperbaiki diri. Ia mengibaratkan ibadah puasa seperti sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan hingga tuntas agar memperoleh hasil terbaik.
Menurutnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi fase yang sangat penting. Ia mencontohkan teladan Nabi Muhammad yang menghidupkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan dengan ibadah, memperbanyak doa, serta mengajak keluarganya untuk ikut meraih keberkahan malam-malam tersebut.
Selain mengingatkan tentang pentingnya ibadah, Wakil Wali Kota juga menyinggung dua nikmat besar yang kerap terlupakan manusia: kesehatan dan kesempatan. Dalam pandangannya, kedua hal itu sering dianggap biasa, padahal justru menjadi modal utama untuk melakukan kebaikan.
Ketika seseorang masih diberi kesehatan oleh Allah SWT, kata dia, maka hal tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebajikan. Kesempatan hidup yang ada hari ini juga perlu dimaknai sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan sekadar menjalani rutinitas dunia.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Menurutnya, membaca kitab suci saja sudah bernilai ibadah, terlebih jika diiringi dengan upaya memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Di tengah dinamika kehidupan modern, pesan yang disampaikan melalui pantun tersebut terasa relevan: dunia memang indah, tetapi ia memiliki batas. Sementara kehidupan akhirat adalah tujuan akhir dari perjalanan manusia.
Melalui refleksi Ramadhan, umat diingatkan kembali untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dengan persiapan menuju kehidupan yang lebih abadi.(*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun pemkot mataram































































