Yuga Anggana
CERAKEN.ID — Jujur saja, ketika Kang Agus – panggilan akrab saya untuk Agus K. Saputra – mengirimkan album ini kepada saya, reaksi pertama saya bukan kekaguman. Bukan pula antusiasme. Reaksi pertama saya adalah: lah, kok bisa seorang penyair tiba-tiba punya album?
Tentu saja saya tidak mengatakannya langsung. Saya hanya membalas pesannya dengan emoji jempol dan kalimat “Wah, keren, Kang!” yang dalam bahasa manusia dewasa kurang lebih artinya: saya butuh beberapa hari untuk mencernanya.
Tapi kemudian Kang Agus meminta saya untuk me-review-nya. Ia tahu saya seorang musisi. Mungkin ia juga sudah cukup kenal bahwa saya susah menolak permintaan kawan dekat. Maka akhirnya saya dengarkan album ini dengan sungguh-sungguh. Volume speaker saya naikkan, kopi berasap baru saya seduh. Catatan terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan sesuatu yang tidak saya duga pun terjadi: saya tidak bisa berhenti mendengarkannya.
Bukan karena ia sempurna. Justru karena ia tidak sempurna, dan dengan cara yang sangat jujur.
Soal Istilah yang Selalu Membuat Saya Gatal
Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil setiap kali saya mendengar istilah “musikalisasi puisi”. Seolah-olah puisi adalah sesuatu yang utuh dan mandiri, lalu musik datang belakangan untuk, bagaimana mengatakannya dengan sopan, menyelamatkannya. Seolah puisi itu diam menunggu dijemput, lalu musik datang dengan motor dan berkata: “Ayo naik, Nak, Bapak antarkan kamu ke pendengar.”
Padahal menurut saya, bahkan ketika sebuah puisi dibacakan pun, ia sudah menjadi bunyi. Ia mengandung ritme, jeda, tekanan, dan diam. Dalam pengertian paling sederhana, bukankah musik juga bekerja dari hal yang sama: bunyi dan diam yang dikelola?
Saya tahu pendapat ini mungkin terdengar provokatif. Tapi anggaplah ini bukan penolakan, melainkan tawaran, yang dengan rendah hati boleh diterima, boleh juga ditolak, bahwa di titik tertentu puisi tidak lagi hanya bekerja sebagai teks, melainkan sebagai peristiwa bunyi.
Dan ketika bunyi itu kemudian diberi melodi, diiringi instrumen, serta disusun dalam struktur musikal, batas antara puisi dan musik menjadi semakin kabur. Ia tidak sepenuhnya berhenti menjadi puisi, tapi juga tidak lagi bisa dibaca hanya sebagai puisi.
Di titik itulah saya mencoba mendengarkan Ampenan Groove.
Sebuah Album yang Tahu ke Mana Ia Ingin Pergi
Album ini ditandai sebagai In Memoriam Imtihan Taufan. Nama yang tidak asing di telinga siapa pun yang bergerak di dunia seni Lombok. Seorang seniman yang meninggalkan banyak karya, dan rupanya meninggalkan lebih banyak lagi kisah di dalam diri orang-orang yang mengenalnya. Dedikasi itu berat. Dan beratnya tidak coba disembunyikan, ia justru menjadi semacam tulang punggung bagi keseluruhan perjalanan emosional album ini.
Lima lagu di sini bukan sekadar kumpulan nomor. Ia terasa seperti fase-fase: dari harapan (“Puspa”), lalu retakan (“Terkoyak Ujung Mimpi”), kemudian penyesalan (“Kutulis Kata Maaf”), hingga akhirnya sampai pada penerimaan dan perpisahan (“Kereta Langit Sudah Datang” dan “Selamat Jalan Kawan”).
Sebuah konsep yang puitik. Tapi seperti halnya perjalanan batin yang sesungguhnya, ia tidak selalu berjalan lurus, tidak selalu mulus, dan kadang-kadang tersandung di tikungan yang tidak terduga.
Mendengarkan Satu per Satu (Dengan Kopi yang Semakin Dingin)
Puspa
Di awal, “Puspa” hadir dengan pendekatan yang cukup berani. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan sejak detik pertama, yang mungkin adalah pilihan paling mudah dan paling aman untuk sebuah album elegi, ia justru memilih jalur groove yang hidup. Funky, dengan pola ritmik drum penuh sinkupasi, seolah berkata: kami di sini bukan untuk meratap, melainkan untuk merayakan.
Namun sebagai musisi, saya mendengar sesuatu yang belum sepenuhnya terbangun di balik itu semua. Ritme memang berjalan, tapi belum sepenuhnya bernyawa. Seperti mesin yang dinyalakan tapi belum dipanaskan. Kata-kata terasa berjalan sendirian, seolah bunyi belum benar-benar menjadi ruang bagi makna untuk tumbuh.
Tapi saya tidak menyebutnya sebagai kegagalan. Ini adalah pilihan pembukaan, dan setiap pembukaan punya hak untuk masih dalam proses menyambut.
Terkoyak Ujung Mimpi
Situasi mulai berubah di lagu kedua. Piano masuk dengan melodi yang bersih, membawa nuansa pop ballad 90-an yang tidak dibuat-buat. Hangat. Tidak terburu-buru.
Tapi yang paling pertama saya tangkap justru bukan piano itu. Sebagai seorang pemain bass, telinga saya langsung jatuh ke satu hal: chord bass yang ditahan. Diam di tempat. Kokoh. Sementara melodi vokal dan piano bebas berkelana ke mana-mana, si bass tetap berdiri di posisinya seperti orang yang sudah berjanji untuk tidak ke mana-mana.
Ada baris yang kemudian membuat saya berhenti sejenak: “Meniti pagi menyapa hari tak ada air mata menepi.” Diucapkan di atas C mayor. Dan entah kenapa, keduanya tiba-tiba membangkitkan gambar yang sangat spesifik: embun jatuh, mengalun, membasahi selembar daun. Tenang. Lega. Sedikit nostalgia.
Kadang, yang dibutuhkan sebuah lagu hanyalah keberanian untuk tidak berlebihan. Dan “Terkoyak Ujung Mimpi” tahu itu.
Kutulis Kata Maaf
Ini favorit saya. Dan saya mengatakannya bukan karena ingin menyenangkan hati Kang Agus.
Di lagu ini, musik dan kata akhirnya seperti menemukan cara untuk saling mendengarkan. Aransemen terasa lebih berisi tanpa menjadi berlebihan. Emosi yang dihadirkan tidak jatuh pada dramatisasi murahan. Ia romantis, tapi tidak memaksa. Sedih, tapi tidak cengeng.
Di titik ini, bunyi tidak lagi sekadar mengiringi kata, ia ikut membentuk pengalaman. Dan itulah yang paling sulit dicapai dalam format seperti ini: ketika dua bahasa yang berbeda, bahasa puisi dan bahasa musik, akhirnya menemukan satu kalimat yang sama.
Kereta Langit Sudah Datang
Di sinilah ambisi musikal terasa paling besar, dan sekaligus paling berisiko. Perpaduan warna bunyi yang beragam, bahkan cenderung kontras antara satu dengan yang lain, menciptakan kesan yang unik sekaligus janggal. Seperti seseorang yang datang ke pesta dengan mengenakan tiga pakaian sekaligus. Niatnya menarik perhatian, tapi hasilnya membingungkan.
Kompleksitas itu justru terasa seperti menarik kata-kata ke berbagai arah sekaligus. Beberapa bagian bahkan terasa seperti harus menyesuaikan diri dengan struktur bunyi yang sudah terlalu padat. Kata-kata tidak lagi punya cukup ruang untuk bernapas.
Yang muncul bukan lagi dialog antara puisi dan musik, melainkan ketegangan yang tidak terselesaikan. Dan ketegangan itu, bagi saya setidaknya, sedikit sulit untuk dinikmati.
Selamat Jalan Kawan
Menariknya, dan ini yang membuat saya merasa album ini tahu apa yang sedang ia lakukan, justru di penutup inilah semuanya kembali melambat.
Musik tidak lagi berusaha tampil menonjol. Ia memilih untuk mendekat. Vokal terasa lebih intim, seperti berbisik di ujung pemakaman. Aransemen lebih sederhana, dan emosi mengalir tanpa tekanan. Kesedihan hadir sebagai sesuatu yang diterima, bukan dipaksakan.
Di sini, bunyi bekerja sebagaimana mestinya: bukan untuk menjelaskan sesuatu, bukan untuk meyakinkan siapa pun, tapi untuk menemani. Dan ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara seperti itu.
Proses yang Belum Selesai, dan Mengapa Itu Tidak Apa-apa
Sebagai sebuah kesatuan, Ampenan Groove terasa seperti proses yang belum sepenuhnya selesai. Dan mungkin memang tidak harus selesai. Ia memperlihatkan bagaimana hubungan antara kata dan bunyi bisa sangat rapuh: kadang saling menguatkan, kadang justru saling melemahkan.
Ada momen ketika musik terlalu berhati-hati hingga kehilangan daya. Ada pula saat ketika ia terlalu ambisius hingga menenggelamkan makna. Tapi di antara dua kutub itu, ada titik-titik di mana keduanya benar-benar bertemu, dan justru di sanalah album ini terasa paling hidup.
“Rekaman yang terlalu sempurna itu menakutkan. Yang menarik justru rekaman yang kamu bisa dengar bahwa manusia benar-benar ada di dalamnya.”
Saya mendengar itu dan percaya. Sebagian juga karena saya sendiri sudah beberapa kali duduk di kursi yang sama: mentransformasi puisi menjadi lagu, mencoba menjembatani dua bahasa yang tidak selalu mau berjalan beriringan. Saya tahu betapa sulitnya menemukan momen ketika keduanya akhirnya sepakat.
Dalam Ampenan Groove, manusia itu terdengar. Tidak sempurna, tidak selalu koheren, tapi hadir dengan sepenuh hati.
Kopi saya memang jadi dingin ketika mendengarkannya. Tapi setidaknya, pikiran saya jadi jauh lebih hangat.
17/04/2026 – 01.52 WITA


























































