Di Tengah Pengetatan Fiskal, Mataram Didorong Tetap Jadi Barometer Kebijakan

Senin, 6 April 2026 - 17:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan Pemerintah Kota Mataram kerap menjadi rujukan bagi daerah lain (Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan Pemerintah Kota Mataram kerap menjadi rujukan bagi daerah lain (Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pagi yang cerah di halaman Kantor Wali Kota Mataram menjadi saksi arah baru yang ditegaskan bagi jalannya pemerintahan daerah.

Di tengah barisan aparatur sipil negara yang tertata rapi, Mohan Roliskana menyampaikan pesan yang tidak sekadar administratif, tetapi juga strategis: Kota Mataram harus tetap berdiri sebagai daerah yang responsif, adaptif, dan berani melangkah lebih dulu.

Dalam apel pagi Senin (06/04/2026), suasana tidak hanya diwarnai rutinitas birokrasi, melainkan juga refleksi atas dinamika kebijakan nasional yang kian menuntut ketangkasan daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di hadapan Sekretaris Daerah, staf ahli, para asisten, pimpinan OPD, hingga seluruh ASN, Wali Kota menegaskan posisi Mataram sebagai barometer, sebuah istilah yang bukan tanpa beban, tetapi juga penuh tanggung jawab.

Pernyataan itu lahir di tengah realitas baru: pengetatan fiskal yang digulirkan pemerintah pusat. Salah satu yang paling krusial adalah penyesuaian belanja pegawai agar berada di bawah 30 persen dari APBD.

Kebijakan ini, bagi banyak daerah, bukan sekadar angka, tetapi tantangan struktural yang menyentuh langsung jantung pengelolaan pemerintahan.

Baca Juga :  Mataram Menyulam Harapan: Verifikasi Lapangan dan Ikhtiar Nyata Menekan Pengangguran

Namun bagi Mataram, tantangan tersebut justru dibaca sebagai ruang untuk berbenah. Mohan Roliskana melihatnya sebagai momentum untuk menata ulang prioritas, merancang ulang program kerja, dan memperkuat tata kelola birokrasi agar tetap berjalan efektif tanpa kehilangan efisiensi.

Dalam kerangka itu, keberanian mengambil keputusan menjadi kata kunci.

“Kota Mataram harus tetap menjadi barometer,” tegasnya, seraya menekankan bahwa kebijakan yang lahir dari daerah tidak boleh sekadar reaktif, tetapi juga visioner.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan Pemerintah Kota Mataram kerap menjadi rujukan bagi daerah lain, sebuah pengakuan diam-diam bahwa pendekatan yang diambil dinilai logis dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Namun, menjadi pelopor tentu tidak mudah. Ada konsekuensi yang harus ditanggung, terutama ketika kebijakan pusat menuntut penyesuaian cepat di tingkat daerah.

Di sinilah, menurut Wali Kota, efisiensi tidak boleh berhenti sebagai jargon. Ia harus menjelma menjadi praktik sehari-hari dalam tubuh birokrasi.

Pengurangan penggunaan bahan bakar, penghematan kertas dan alat tulis kantor, hingga pengendalian biaya operasional menjadi contoh konkret yang disorot. Langkah-langkah ini mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dan kolektif, akan membentuk budaya baru dalam pengelolaan anggaran; budaya yang lebih sadar, terukur, dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Di Tengah Efisiensi, Mataram Menjaga Tenaga dan Menata Prioritas

Lebih jauh, Mohan Roliskana menggarisbawahi bahwa setiap daerah memiliki ruang kreativitasnya sendiri. Kebijakan efisiensi tidak harus seragam, tetapi harus kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing wilayah.

Dalam konteks Mataram, kreativitas itu menjadi penting agar efisiensi tidak justru menghambat pelayanan publik.

Di balik seluruh penegasan tersebut, terselip satu pesan yang lebih dalam: bahwa menjadi bagian dari sistem pemerintahan berarti harus tegak lurus terhadap kebijakan nasional.

Tidak selalu mudah, bahkan kerap menuntut kompromi antara idealisme dan realitas. Namun, bagi jajaran Pemerintah Kota Mataram, itulah konsekuensi dari tanggung jawab publik yang diemban.

Apel pagi itu pun berakhir seperti biasa, tetapi gema pesannya masih terasa. Di tengah tekanan fiskal dan tuntutan efisiensi, Mataram diingatkan untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus bergerak maju; menjadi contoh, sekaligus pembelajar dalam lanskap pemerintahan yang terus berubah. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemkot mataram

Berita Terkait

Nyimpen di Sekarbela: Merawat Tradisi, Menguatkan Keikhlasan Menuju Tanah Suci
Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
Menjaga Amanah di Tengah Kekuasaan: Ikhtiar Mataram Memperkuat Integritas
Menyatukan Arah, Menguatkan Langkah: Mataram dalam Orkestrasi Pembangunan NTB
Membangun Kota Berbasis Data: Langkah Mataram Menuju Tata Kelola Modern
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Dari Panggung Penghargaan ke Budaya Kinerja: Menjadikan Hattrick Prestasi Mataram Bernilai Jangka Panjang
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 17:19 WITA

Nyimpen di Sekarbela: Merawat Tradisi, Menguatkan Keikhlasan Menuju Tanah Suci

Jumat, 17 April 2026 - 07:58 WITA

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove

Kamis, 16 April 2026 - 23:10 WITA

Menjaga Amanah di Tengah Kekuasaan: Ikhtiar Mataram Memperkuat Integritas

Kamis, 16 April 2026 - 21:29 WITA

Menyatukan Arah, Menguatkan Langkah: Mataram dalam Orkestrasi Pembangunan NTB

Rabu, 15 April 2026 - 22:58 WITA

Membangun Kota Berbasis Data: Langkah Mataram Menuju Tata Kelola Modern

Berita Terbaru

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Minggu, 19 Apr 2026 - 20:20 WITA

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA