CERAKEN.ID — Suasana pagi Idulfitri 1447 Hijriah di Kota Mataram menghadirkan lebih dari sekadar perayaan keagamaan.
Di tengah hamparan Lapangan Lombok Epicentrum Mall, ribuan warga berkumpul menunaikan salat Id dengan khidmat, dipimpin oleh semangat kebersamaan yang terasa hangat dan tulus.
Di antara mereka, Wali Kota H. Mohan Roliskana turut hadir, menyatu dengan masyarakat dalam momen yang sarat makna spiritual dan sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perayaan tahun ini memiliki nuansa yang istimewa. Idulfitri hadir berdekatan dengan hari suci umat Hindu, sebuah kebetulan kalender yang justru mempertegas realitas sosial Mataram sebagai kota yang hidup dalam keberagaman.
Di tengah perbedaan keyakinan, masyarakat tidak terjebak dalam sekat, melainkan menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar jargon, tetapi praktik nyata yang tumbuh dari kesadaran kolektif.
“Kita patut bersyukur… di tengah perbedaan, kita tetap menjaga kebersamaan dan saling menghormati,” ujar Mohan Roliskana dalam pesannya.
Pernyataan ini bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi dari denyut kehidupan masyarakat yang telah lama menjadikan harmoni sebagai fondasi bersama.
Di sudut lain kota, semangat serupa juga terasa di lingkungan Masjid Al Raisyiah, Karang Pule, Kecamatan Sekarbela. Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman hadir sekaligus menyampaikan khutbah Idulfitri di hadapan jamaah yang memadati masjid.

Dalam khutbahnya, ia menggarisbawahi pentingnya syukur sebagai sikap hidup, serta mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa terima kasih, memperkuat tradisi saling memaafkan, dan menjaga kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa lisan adalah cerminan akhlak. Di era digital yang serba cepat, pesan ini menjadi semakin relevan.
Media sosial, yang kerap menjadi ruang tanpa batas, menuntut kebijaksanaan dalam bertutur dan bersikap. Sebab, harmoni yang dibangun di dunia nyata dapat dengan mudah terkikis oleh kata-kata yang tidak terjaga di ruang maya.
Idulfitri, pada akhirnya, bukan hanya tentang kembali ke fitrah secara personal, tetapi juga tentang memperbarui komitmen kolektif sebagai masyarakat. Mataram memberikan pelajaran penting: bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai kekuatan.
Bahwa toleransi tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami.
Di kota ini, harmoni tidak hadir secara tiba-tiba. Ia dijaga melalui sikap saling menghormati, melalui kesadaran untuk menempatkan kemanusiaan di atas perbedaan, serta melalui komitmen untuk terus merawat ruang kebersamaan.
Momentum Idulfitri 1447 H menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah investasi sosial yang tak ternilai.
Dari Mataram, pesan itu bergema: damai bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari pilihan-pilihan bijak yang terus diupayakan bersama.
Selamat Idulfitri 1447 Hijriah. Saatnya kembali merajut silaturahmi, memperkuat toleransi, dan menjaga Mataram tetap menjadi rumah yang damai bagi semua. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun pemkot mataram































































