CERAKEN.ID– Membaca artikel bertajuk “Saat TPA Penuh, Saatnya Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah” yang terbit di ceraken.id pada 5 Februari 2026, memunculkan resonansi tersendiri bagi perupa Lombok, I Nyoman Sandiya.
Tanpa banyak jeda, ia langsung menunjukkan tiga karya lukisannya yang dibuat dari limbah plastik dan kardus bekas, medium yang selama ini menjadi persoalan serius lingkungan.
“Tiga karya cukup besar,” ujar Sandiya sambil menunjuk karya-karyanya yang tersusun di studio sekaligus rumahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketiga karya tersebut berjudul “Lestari Lautku”, “Kadal Nongak Petani Bangket”, dan “Inaq Petani Bangket”, masing-masing berukuran 120 x 75 sentimeter.
Semua dibuat dari kardus bekas dan plastik daur ulang, lalu dipadukan dengan bingkai bambu tutul. Secara visual, karya-karya ini memadukan pendekatan lukisan dan relief, menghasilkan kesan dimensional yang kuat.
Namun, di balik estetika visual tersebut, terdapat kegelisahan ekologis yang mendalam.
Bagi Sandiya, penggunaan limbah plastik bukan sekadar eksperimen artistik. Ia melihat langsung bagaimana sampah plastik telah merusak lingkungan sekitar, termasuk ekosistem pertanian dan laut.
“Kerusakan alam dan lingkungan kita sudah sangat parah. Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangganya masih sangat rendah,” tuturnya.
Plastik, menurutnya, menjadi ancaman besar karena sulit terurai. Ketika limbah plastik masuk ke sawah, sungai, hingga laut, keseimbangan ekosistem terganggu.
Ia mengaku pengalaman menyelam di kawasan wisata Gili Nanggu meninggalkan kesan yang bercampur antara kagum dan sedih.
“Alam bawah lautnya sangat indah, terumbu karang dan ikan-ikannya luar biasa. Tapi sayangnya sampah plastiknya juga banyak. Bahkan kadang badan kita sampai bertabrakan dengan sampah plastik di laut,” kenangnya.
Kegelisahan itulah yang kemudian menjelma menjadi karya.
“Lestari Lautku”: Semangat yang Tidak Padam
Salah satu karya yang paling menonjol adalah “Lestari Lautku”. Dalam karya ini, Sandiya menghadirkan karakter kerang raksasa di tengah komposisi laut yang dinamis. Kerang itu bukan sekadar elemen estetis, melainkan simbol semangat menjaga laut.
“Nggih, kerang besar itu melambangkan semangat membersihkan sampah di laut. Walau kadang sendirian dan pelan-pelan, semangat jangan sampai pudar,” jelasnya.
Karya tersebut seakan berbicara tentang perjuangan panjang menjaga lingkungan, usaha yang mungkin tampak kecil, namun harus terus dilakukan tanpa menyerah.
Pesan itu terasa relevan di tengah kondisi pengelolaan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di berbagai daerah, termasuk Lombok.
Proses penciptaan karya Sandiya pun bukan perkara sederhana. Ia memulai dengan membuat sketsa, kemudian memotong kardus mengikuti bentuk yang diinginkan.
Kardus itu kemudian dilapisi plastik bekas sebanyak tiga hingga lima lapisan untuk menghasilkan tekstur dan ketebalan tertentu.
“Satu karya bisa menghabiskan lima kardus bekas air minum. Karakter ombak, ikan paus, kerang, sampai awan dibuat berlapis-lapis, mirip relief candi-candi di Jawa,” jelasnya.
Teknik tersebut menghasilkan kesan tiga dimensi yang kuat, menjadikan lukisannya lebih menyerupai relief daripada lukisan datar. Plastik bekas tidak dilebur, melainkan dipilih dan disusun sesuai warna dan karakter visual yang diinginkan.
Proses pengerjaan satu karya pun tidak bisa dilakukan secara cepat. Karena Sandiya tetap menjalankan profesinya sebagai guru, pengerjaan karya dilakukan di sela-sela waktu luang.
“Sekitar dua minggu. Detail pemotongan dan penempelan plastik cukup menyita waktu. Biasanya saya kerjakan setelah pulang kerja atau saat hari libur. Kadang sampai larut malam kalau energinya lagi besar untuk berkarya,” katanya.
Setiap karya menjadi hasil dari ketekunan sekaligus komitmen pribadi terhadap pesan lingkungan yang ingin ia sampaikan.
Seruan “Perang” terhadap Sampah Plastik
Setelah jeda cukup lama dalam perbincangan, Sandiya kembali menegaskan kegelisahannya.
“Dengan kerusakan yang ditimbulkan sampah plastik ini dan kesadaran masyarakat yang masih rendah, semestinya kita gaungkan perang terhadap sampah plastik,” ujarnya tegas.
Namun perang yang ia maksud bukan sekadar kampanye sesaat, melainkan perubahan perilaku sehari-hari. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari lingkup terkecil.
“Mulai dari keluarga, lingkungan sekitar rumah, lalu meluas sesuai lingkaran pergaulan kita,” katanya.
Karya seni, bagi Sandiya, menjadi salah satu cara menyampaikan pesan itu secara halus namun kuat. Ia percaya seni mampu menyentuh kesadaran tanpa harus menggurui.
I Nyoman Sandiya bukan nama baru di dunia seni rupa Lombok. Ia merupakan anggota Mandalika Art Community (MAC) dan alumnus IKIP Yogyakarta.
Skripsinya dahulu membahas Wayang Alih dengan serat Dhamar Wulan Menak Jinggo, menunjukkan ketertarikannya pada tradisi dan narasi budaya.
Kini, ia menetap di Lombok dan mengembangkan Studio Alam Bangket Gunung Pengsong, sekaligus mengajar di SMAN 8 Mataram. Dunia pendidikan dan seni berjalan beriringan dalam hidupnya.
Melalui profesinya sebagai guru, ia juga berupaya menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda. Baginya, perubahan masa depan bergantung pada cara anak-anak hari ini memahami hubungan manusia dengan alam.
Karya-karya berbahan sampah plastik itu menjadi bukti bahwa limbah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Di tangan kreatif, sampah dapat berubah menjadi medium refleksi sekaligus ajakan untuk memperbaiki cara pandang terhadap lingkungan.
Seni sebagai Alarm Ekologis
Karya Sandiya memperlihatkan bagaimana seni bisa berfungsi sebagai alarm ekologis, mengingatkan masyarakat bahwa krisis lingkungan bukan sekadar isu global yang jauh, melainkan persoalan yang hadir di sekitar kehidupan sehari-hari.
Plastik yang semula menjadi masalah, berubah menjadi bagian dari solusi melalui kreativitas. Lukisan-lukisan itu bukan hanya objek estetika, tetapi juga bentuk kritik sosial dan ajakan untuk berubah.
Di tengah semakin penuhnya tempat pembuangan sampah dan meningkatnya pencemaran lingkungan, pesan dalam karya-karya Sandiya terasa semakin relevan: bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, dari rumah, dari diri sendiri.
Dan kadang, perubahan itu dimulai dari sesuatu yang tak terduga, selembar kardus bekas dan plastik yang selama ini dianggap tak berguna, namun di tangan seniman berubah menjadi pengingat bahwa bumi perlu dijaga bersama. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita: liputan































































