Ogoh-Ogoh dan Wajah Toleransi Mataram

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mataram hari ini: sebuah kota yang menjadikan toleransi sebagai identitas, bukan slogan (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Mataram hari ini: sebuah kota yang menjadikan toleransi sebagai identitas, bukan slogan (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di jalan-jalan Kota Mataram, Rabu sore itu, denting gamelan dan sorak anak-anak muda berpadu dengan langkah-langkah penuh makna. Ogoh-ogoh, figur raksasa simbolisasi sifat buruk manusia, diarak bukan sekadar sebagai tradisi menjelang Nyepi, tetapi sebagai bahasa kebudayaan yang menyatukan.

Di kota ini, perayaan bukan hanya milik satu umat, melainkan menjadi ruang bersama yang merangkul semua.

Momentum 18 Maret 2025 itu terasa berbeda. Ia bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan pernyataan terbuka tentang siapa Mataram hari ini: sebuah kota yang menjadikan toleransi sebagai identitas, bukan slogan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan, Mataram memilih jalan sunyi: merawat harmoni.

Kehadiran Lalu Muhammad Iqbal bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTB, serta Mohan Roliskana dan Forkopimda Kota Mataram, menjadi penanda penting. Negara hadir tidak sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai penjaga nilai.

Lalu Muhamad Iqbal (kiri) dan Mohan Roliskana (kanan). Negara hadir tidak sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai penjaga nilai (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Di tengah kerumunan masyarakat, kehadiran mereka menyimbolkan satu hal: bahwa toleransi bukan hanya urusan warga, tetapi komitmen bersama antara masyarakat dan pemerintah.

Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal membaca lebih dalam dari sekadar meriahnya acara. Ia melihat keseriusan, sebuah kualitas yang jarang tampak dalam perayaan seremonial.

Keseriusan itu tercermin dalam kesiapan, dalam keterlibatan lintas elemen masyarakat, dan dalam cara warga merawat kebersamaan. Bagi Iqbal, harmoni yang tampak hari itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang dialog, gesekan, dan pembelajaran kolektif.

Baca Juga :  Dari Mataram, Model Komunikasi Publik Itu Tumbuh

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan keluar: bahwa Nusa Tenggara Barat bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga lanskap sosial yang matang dalam mengelola keberagaman. Di sini, toleransi bukan retorika, melainkan praktik sehari-hari.

Sementara itu, Wali Kota Mohan Roliskana mengartikulasikan toleransi dalam bahasa yang lebih dekat dengan identitas lokal. Ia menyebut “Harmoni” sebagai huruf “H” dalam visi HARUM, sebuah akronim yang kini menemukan maknanya dalam praktik nyata.

Harmoni, dalam konteks ini, bukan lagi cita-cita yang jauh di depan, melainkan sesuatu yang hidup di tengah warga: dalam sapaan sehari-hari, dalam kerja sama lintas komunitas, dan dalam perayaan seperti ogoh-ogoh ini.

Made Krisna Yuda Prasetya. Menjadi bukti bahwa tradisi tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus dihidupkan melalui kreativitas (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Menariknya, denyut utama kegiatan ini justru datang dari generasi muda. Sebanyak 105 peserta, sebagaimana dilaporkan Ketua Pelaksana Made Krisna Yuda Prasetya, menjadi bukti bahwa tradisi tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus dihidupkan melalui kreativitas.

Mereka tidak hanya membuat ogoh-ogoh, tetapi juga merancang narasi: bahwa seni dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dalam membangun kesadaran kolektif.

Di tangan generasi muda, ogoh-ogoh berubah menjadi medium ekspresi; mengkritik, merefleksi, sekaligus merayakan. Ia menjadi simbol bahwa kebudayaan adalah ruang dialog, bukan sekadar ritual. Dan dalam dialog itulah toleransi menemukan bentuknya yang paling otentik.

Gotong royong yang melibatkan pemerintah, pemuda, dan masyarakat menjadi fondasi utama kegiatan ini. Ia menunjukkan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk bekerja bersama di tengah perbedaan.

Baca Juga :  TAGANA dan Wajah Kemanusiaan di Tengah Ancaman Bencana

Seperti anyaman, kekuatan justru muncul dari keberagaman helai yang saling mengikat.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mengandung pesan filosofis yang dalam: bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan sumber daya sosial. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pesan ini menjadi relevan, bahkan mendesak.

Seni dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dalam membangun kesadaran kolektif (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Mataram, melalui perayaan sederhana ini, seolah mengingatkan bahwa toleransi tidak perlu selalu dibicarakan dalam forum besar; ia cukup dirawat dalam tindakan-tindakan kecil yang konsisten.

Pada akhirnya, ogoh-ogoh itu akan dibakar, sebuah simbol pelepasan sifat-sifat buruk. Namun yang tersisa bukanlah abu, melainkan ingatan kolektif tentang kebersamaan.

Tentang bagaimana sebuah kota memilih untuk tidak larut dalam perbedaan, tetapi justru menjadikannya sebagai energi untuk hidup bersama.

Mataram hari itu tidak hanya merayakan tradisi. Ia sedang menulis narasi tentang dirinya sendiri: sebagai kota yang inklusif, sebagai ruang hidup bersama, dan sebagai bukti bahwa toleransi, ketika dirawat dengan sungguh-sungguh, dapat menjadi identitas yang mengakar.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, narasi seperti inilah yang akan bertahan. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah kota dikenang bukan hanya bangunan atau infrastrukturnya, melainkan cara warganya memperlakukan satu sama lain.

Dan dalam hal itu, Mataram telah memberi pelajaran penting: bahwa harmoni adalah kerja bersama dan kerja itu, sejauh ini, sedang dijalankan dengan baik.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:38 WITA

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA