Idulfitri di Mataram: Merawat Harmoni di Tengah Perbedaan

- Penulis

Minggu, 22 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

(Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

(Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Suasana pagi Idulfitri 1447 Hijriah di Kota Mataram menghadirkan lebih dari sekadar perayaan keagamaan.

Di tengah hamparan Lapangan Lombok Epicentrum Mall, ribuan warga berkumpul menunaikan salat Id dengan khidmat, dipimpin oleh semangat kebersamaan yang terasa hangat dan tulus.

Di antara mereka, Wali Kota H. Mohan Roliskana turut hadir, menyatu dengan masyarakat dalam momen yang sarat makna spiritual dan sosial.

Perayaan tahun ini memiliki nuansa yang istimewa. Idulfitri hadir berdekatan dengan hari suci umat Hindu, sebuah kebetulan kalender yang justru mempertegas realitas sosial Mataram sebagai kota yang hidup dalam keberagaman.

Di tengah perbedaan keyakinan, masyarakat tidak terjebak dalam sekat, melainkan menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar jargon, tetapi praktik nyata yang tumbuh dari kesadaran kolektif.

“Kita patut bersyukur… di tengah perbedaan, kita tetap menjaga kebersamaan dan saling menghormati,” ujar Mohan Roliskana dalam pesannya.

Pernyataan ini bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi dari denyut kehidupan masyarakat yang telah lama menjadikan harmoni sebagai fondasi bersama.

Baca Juga :  Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Di sudut lain kota, semangat serupa juga terasa di lingkungan Masjid Al Raisyiah, Karang Pule, Kecamatan Sekarbela. Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman hadir sekaligus menyampaikan khutbah Idulfitri di hadapan jamaah yang memadati masjid.

(Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

Dalam khutbahnya, ia menggarisbawahi pentingnya syukur sebagai sikap hidup, serta mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa terima kasih, memperkuat tradisi saling memaafkan, dan menjaga kasih sayang dalam kehidupan sosial.

Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa lisan adalah cerminan akhlak. Di era digital yang serba cepat, pesan ini menjadi semakin relevan.

Media sosial, yang kerap menjadi ruang tanpa batas, menuntut kebijaksanaan dalam bertutur dan bersikap. Sebab, harmoni yang dibangun di dunia nyata dapat dengan mudah terkikis oleh kata-kata yang tidak terjaga di ruang maya.

Baca Juga :  Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Idulfitri, pada akhirnya, bukan hanya tentang kembali ke fitrah secara personal, tetapi juga tentang memperbarui komitmen kolektif sebagai masyarakat. Mataram memberikan pelajaran penting: bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai kekuatan.

Bahwa toleransi tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami.

Di kota ini, harmoni tidak hadir secara tiba-tiba. Ia dijaga melalui sikap saling menghormati, melalui kesadaran untuk menempatkan kemanusiaan di atas perbedaan, serta melalui komitmen untuk terus merawat ruang kebersamaan.

Momentum Idulfitri 1447 H menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah investasi sosial yang tak ternilai.

Dari Mataram, pesan itu bergema: damai bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari pilihan-pilihan bijak yang terus diupayakan bersama.

Selamat Idulfitri 1447 Hijriah. Saatnya kembali merajut silaturahmi, memperkuat toleransi, dan menjaga Mataram tetap menjadi rumah yang damai bagi semua. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemkot mataram

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya
Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya
Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN
Menyusuri Jejak Wallace, Menghidupkan Kembali Memori Kota Tua Ampenan
Sepak Bola, Sorak Warga, dan Ruang Persaudaraan di RTH Pagutan
Menyemai Integritas dari Mataram: Saat Antikorupsi Menjadi Gerakan Budaya

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:28 WITA

Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:49 WITA

Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:34 WITA

Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA