CERAKEN.ID — Suasana sore di Masjid Al Musthafa, Lingkungan Pesinggahan, terasa berbeda dari hari-hari biasa. Pada Minggu (05/04/2026), lantunan doa dan zikir mengalun pelan, menyatu dengan keheningan yang khidmat.
Masyarakat dari berbagai penjuru berkumpul, bukan sekadar untuk mengenang, tetapi juga merawat jejak spiritual yang telah ditinggalkan oleh seorang ulama kharismatik: TGH Musthafa Kamal.
Peringatan haul ke-11 Almagfurlah Maulana Syekh TGH Musthafa Kamal itu menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Mataram, Mujiburrahman, bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, para tuan guru, alim ulama, serta keluarga besar almarhum yang datang dari berbagai wilayah di Pulau Lombok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah suasana yang sarat makna, TGH Mujiburrahman didaulat memimpin doa. Suaranya yang tenang namun penuh penekanan spiritual menggema di dalam masjid, seolah mengikat seluruh jamaah dalam satu kesadaran: bahwa warisan ulama bukan hanya dikenang, tetapi juga harus dilanjutkan.
Doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan atas perjuangan panjang para tuan guru dalam membimbing umat.
Nama TGH Musthafa Kamal sendiri bukanlah sosok yang asing di kalangan masyarakat Lombok, khususnya di Pesinggahan. Ia dikenal sebagai ulama yang menempuh jalan sunyi, hidup sederhana, namun kaya akan pengaruh spiritual.
Sejak usia muda, beliau telah menunaikan amanah keluarga untuk menimba ilmu hingga ke Makkah Al-Mukarramah, sebuah perjalanan panjang yang membentuk kedalaman ilmunya sekaligus keteguhan prinsip hidupnya.
Sepulang dari Tanah Suci, jalan dakwah yang ditempuhnya tidak lazim. Ia tidak membatasi diri pada satu majelis atau satu tempat, melainkan bergerak dari satu kampung ke kampung lain, mendatangi masyarakat secara langsung.
Dalam kesederhanaan metode itulah, dakwahnya justru menemukan kekuatan. Ia hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar pengajar, tetapi juga sahabat spiritual bagi jamaahnya.
Keteladanan TGH Musthafa Kamal terletak pada laku, bukan semata pada ujaran. Ia mengajarkan keikhlasan dengan cara hidupnya, menanamkan nilai keimanan melalui sikapnya, dan menunjukkan akhlak mulia lewat tindakan nyata.
Tidak heran jika hingga kini, jejaknya masih terasa hidup di hati para murid dan masyarakat yang pernah bersentuhan langsung dengannya.
Peringatan haul ini pun tidak berhenti pada doa dan refleksi. Sebagai bagian dari tradisi lokal yang sarat makna, acara dilanjutkan dengan prosesi pengisian simbolis koper bagi calon jamaah haji asal Lingkungan Pesinggahan.
Tradisi ini menjadi penanda kebersamaan, sebuah bentuk dukungan moral dan spiritual dari masyarakat kepada mereka yang akan menunaikan rukun Islam kelima.
Tahun ini, sebanyak empat Jamaah Calon Haji (JCH) dari Pesinggahan akan berangkat ke Tanah Suci. Di tengah prosesi tersebut, harapan dan doa mengalir: agar perjalanan mereka dimudahkan, ibadah mereka diterima, dan sepulangnya nanti dapat membawa keberkahan bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, haul ke-11 ini bukan hanya tentang mengenang sosok TGH Musthafa Kamal sebagai individu, tetapi juga tentang menjaga kesinambungan nilai.
Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, warisan spiritual para ulama menjadi jangkar yang meneguhkan arah. Dari Pesinggahan, pesan itu kembali ditegaskan: bahwa keikhlasan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan umat adalah fondasi yang tak lekang oleh waktu. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken id
Sumber Berita: akun ppid kota mataram


























































