CERAKEN.ID — Mataram — Siang itu, suasana Mandalika Ballroom, Hotel Lombok Astoria, terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan sekadar pertemuan seremonial, Halal Bihalal Rukun Keluarga Dompu (RKD) 1447 H/2026 yang berlangsung pada Minggu (19/04) menjelma menjadi ruang temu penuh rasa, tempat rindu, cerita, dan identitas melebur menjadi satu: kebersamaan.
Di tengah riuh tawa dan sapaan akrab sesama perantau, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menyampaikan pesan yang sederhana namun menyentuh inti kehidupan kota yang majemuk: tak ada lagi sekat sosial yang memisahkan.
“Ketika kita memilih tinggal dan hidup di Kota Mataram, tidak lagi ada in-group dan out-group. Tidak ada ‘kita’ dan ‘mereka’. Kita semua adalah satu,” ucapnya, tenang namun tegas, disambut gemuruh tepuk tangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pesan itu terasa lebih dari sekadar retorika. Ia mencerminkan denyut kehidupan sehari-hari di Mataram—tentang guru yang mengajar tanpa melihat asal-usul muridnya, tokoh agama yang menyejukkan lintas umat, hingga masyarakat yang bekerja bersama membangun kota. Dalam mozaik kehidupan itu, warga Dompu hadir sebagai bagian penting yang memberi warna tersendiri.
Bagi banyak warga Dompu, merantau ke Mataram bukan sekadar upaya mencari penghidupan, melainkan perjalanan menemukan rumah kedua. Identitas tetap dijaga, tetapi tanpa menciptakan jarak dengan lingkungan yang lebih luas.
Identitas dan Persatuan dalam Ruang yang Sama
“Identitas kelompok tetap penting sebagai bagian dari jati diri, namun dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Kota Mataram, seluruh warga harus mengedepankan persatuan. Di sinilah Kota Mataram menemukan kekuatannya,” tegas Mohan Roliskana.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah tantangan yang harus dihindari, melainkan potensi yang perlu dirawat. Kota ini tumbuh dari perjumpaan berbagai latar belakang, dari perbedaan yang dikelola menjadi kekuatan kolektif.
Lebih jauh, Wali Kota mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga besar Dompu, untuk ikut bertanggung jawab menjaga keberlanjutan kota. Ia menekankan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kesadaran warganya.
“Kota ini tumbuh bukan karena satu kelompok, tapi karena semua yang mau peduli dan ikut menjaga. Kita tidak hanya bicara soal pertumbuhan ekonomi atau kesejahteraan sosial, tetapi kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan pembangunan,” ujarnya.
Ia menambahkan dengan nada reflektif, “Perjalanan kita masih panjang. Apa yang kita lakukan hari ini adalah warisan untuk anak-anak kita ke depan. Karena itu, tanggung jawab kita adalah memastikan masa depan kota ini tetap terjaga dengan baik.”
MECI’ANI: Nilai yang Menyatukan
Di sudut lain ruangan, Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, mengangkat nilai kultural yang hidup dalam masyarakat Dompu: MECI’ANI. Sebuah konsep yang sederhana, namun mengandung makna mendalam tentang kebersamaan, solidaritas, dan saling menguatkan.
Nilai itu terasa nyata dalam suasana halal bihalal tersebut. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak sosial. Semua duduk setara, berbagi cerita, dan menghidupkan kembali ingatan akan akar yang sama.
“Semoga kebersamaan ini terus terjaga, terpelihara, dan menjadi warisan yang akan sangat kita banggakan bersama,” ujarnya.
Momentum ini seolah menjadi cermin kecil dari wajah Mataram yang sesungguhnya, kota yang tidak hanya dibangun oleh beton dan angka statistik, tetapi oleh relasi antarmanusia yang saling menguatkan.
Di tengah tantangan kota yang semakin kompleks, mulai dari tekanan ekonomi hingga isu lingkungan, pesan tentang persatuan menjadi semakin relevan. Sebab pada akhirnya, kota adalah tentang manusia: bagaimana mereka hidup berdampingan, saling menjaga, dan merawat masa depan bersama.
Dari ruang ballroom itu, Mataram memperlihatkan jati dirinya. Kota yang tidak sibuk mempertanyakan asal-usul, melainkan membuka ruang untuk kolaborasi.
Sebuah kota yang tidak lagi bertanya, “kamu dari mana?”, tetapi “apa yang bisa kita lakukan bersama?”
Dan mungkin, di situlah harapan menemukan tempatnya.
Bahwa di tengah perbedaan, selalu ada ruang untuk menjadi satu. Bahwa masa depan tidak dibangun oleh “kita” atau “mereka”, melainkan oleh “kita semua”. (tk-diskominfo)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun ppid kota mataram


























































