Jejak Sunyi di Monjok: Ketika Pelayanan Publik Menyentuh Batas Kehidupan

- Penulis

Senin, 13 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Mohan Roliskana. Lahan seluas kurang lebih dua hektar itu terbentang sederhana, namun memikul tanggung jawab besar (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

Mohan Roliskana. Lahan seluas kurang lebih dua hektar itu terbentang sederhana, namun memikul tanggung jawab besar (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di sebuah hamparan tanah yang tenang di kawasan Monjok, waktu seolah berjalan lebih lambat. Pagi itu, Senin (13/04/2026), Mohan Roliskana melangkah menyusuri lahan yang kelak menjadi peristirahatan terakhir banyak warga Mataram.

Langkah itu bukan sekadar peninjauan biasa. Ada kesadaran yang mengiringinya, bahwa ruang yang kini tampak lengang ini suatu hari akan dipenuhi kisah kehidupan, doa-doa yang lirih, serta kenangan yang tak lekang oleh waktu. Di tempat seperti inilah, wajah kemanusiaan sebuah kota diuji.

Didampingi Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Mataram, Muhamad Nazaruddin Fikri, Wali Kota meninjau langsung Tempat Pemakaman Umum (TPU) di terusan Jalan Bung Karno. Lahan seluas kurang lebih dua hektar itu terbentang sederhana, namun memikul tanggung jawab besar: menjadi ruang terakhir yang layak, tertata, dan bermartabat bagi masyarakat.

Percakapan yang terbangun di lokasi tidak hanya menyentuh aspek teknis seperti batas lahan atau rencana penataan. Justru perhatian diarahkan pada hal-hal yang lebih mendasar; akses yang memudahkan peziarah, kebersihan lingkungan, hingga suasana yang mampu memberi ketenangan bagi keluarga yang datang dalam suasana duka.

Baca Juga :  Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Dari arah kebijakan yang tersirat, jelas bahwa TPU dipandang bukan semata sebagai lahan pemakaman. Ia adalah bagian dari pelayanan kemanusiaan, ruang penghormatan terakhir sekaligus tempat bagi yang hidup untuk merawat ingatan dan ikatan emosional dengan mereka yang telah pergi.

Penataan kawasan menjadi fokus utama. Wali Kota menekankan pentingnya pengelolaan yang tertib, berkelanjutan, serta selaras dengan tata ruang kota. Sebab di ruang seperti ini, nilai utama bukanlah kemegahan, melainkan kelayakan, ketertiban, dan penghormatan.

Bagi sebagian orang, TPU mungkin hanya terlihat sebagai lahan kosong. Namun bagi banyak keluarga, ia adalah ruang Kembali; tempat doa dipanjatkan, kenangan dirawat, dan kehilangan perlahan menemukan maknanya.

Melalui peninjauan ini, Pemerintah Kota Mataram menegaskan komitmennya: menghadirkan pelayanan publik yang utuh; tidak hanya saat kehidupan berjalan, tetapi juga ketika kehidupan itu berpulang.

Karena pada akhirnya, cara sebuah kota memperlakukan ruang peristirahatan terakhir warganya adalah cerminan dari bagaimana kota itu menghargai kehidupan.

Adapun masukan dan saran agar TPU lebih bermanfaat bagi masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Pengelolaan berbasis zonasi yang tertib
Baca Juga :  Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Penataan blok makam secara sistematis akan memudahkan pencarian lokasi makam dan menjaga kerapian kawasan.

2. Penyediaan fasilitas dasar yang memadai

Seperti tempat duduk, penerangan, tempat sampah, serta jalur pejalan kaki yang layak agar peziarah merasa nyaman.

3. Pengembangan konsep TPU ramah lingkungan

Mengintegrasikan ruang hijau, penanaman pohon, dan pengelolaan air agar TPU tidak gersang, tetapi menjadi kawasan yang asri dan teduh.

4. Digitalisasi data pemakaman

Membuat sistem informasi atau peta digital makam untuk memudahkan masyarakat menemukan lokasi keluarga mereka.

5. Edukasi dan pelibatan Masyarakat

Mendorong kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan ketertiban TPU sebagai bagian dari budaya menghormati leluhur.

6. Pemanfaatan sebagai ruang refleksi publik

TPU dapat dirancang tidak hanya sebagai tempat pemakaman, tetapi juga ruang kontemplasi yang tenang dan manusiawi bagi masyarakat.

Dengan langkah-langkah tersebut, TPU tidak hanya berfungsi sebagai ruang peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi bagian dari wajah kota yang beradab, yang menghargai kehidupan, bahkan hingga di titik akhirnya. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya
Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya
Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN
Menyusuri Jejak Wallace, Menghidupkan Kembali Memori Kota Tua Ampenan
Sepak Bola, Sorak Warga, dan Ruang Persaudaraan di RTH Pagutan
Menyemai Integritas dari Mataram: Saat Antikorupsi Menjadi Gerakan Budaya

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:28 WITA

Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:49 WITA

Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:34 WITA

Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA