Pantun, Ramadhan, dan Pengingat tentang Batas Dunia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TGH Mujiburrahman (tengah). Sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi fase yang sangat penting (FotoL pemkotmataram/ceraken.id)

TGH Mujiburrahman (tengah). Sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi fase yang sangat penting (FotoL pemkotmataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Suasana Ramadhan sering menghadirkan cara-cara sederhana namun penuh makna untuk menyampaikan pesan kehidupan. Salah satunya melalui pantun, tradisi lisan yang sejak lama hidup dalam budaya Melayu.

Dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan Silaturahmi Ramadhan Keluarga Besar BPMP Nusa Tenggara Barat, Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman membuka tausiyahnya dengan sebuah pantun yang mengundang perenungan.

“Hujan turun amat derasnya,

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Duduk berdua dalam kereta,

Indah dunia ada batasnya,

Akhirat jua tempat pulang kita.”

Pantun tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Wijayakusuma BPMP NTB pada Jumat (13/03/2026) di Mataram. Dengan gaya tutur yang sederhana namun reflektif, ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Karena itu, manusia perlu menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang lebih abadi di akhirat.

Baca Juga :  Ketika Kreativitas Fiskal Menjadi Wajah Baru Pemerintahan Daerah

Dalam tausiyahnya, TGH Mujiburrahman mengajak umat Islam memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperkuat ibadah dan memperbaiki diri. Ia mengibaratkan ibadah puasa seperti sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan hingga tuntas agar memperoleh hasil terbaik.

Menurutnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi fase yang sangat penting. Ia mencontohkan teladan Nabi Muhammad yang menghidupkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan dengan ibadah, memperbanyak doa, serta mengajak keluarganya untuk ikut meraih keberkahan malam-malam tersebut.

Selain mengingatkan tentang pentingnya ibadah, Wakil Wali Kota juga menyinggung dua nikmat besar yang kerap terlupakan manusia: kesehatan dan kesempatan. Dalam pandangannya, kedua hal itu sering dianggap biasa, padahal justru menjadi modal utama untuk melakukan kebaikan.

Ketika seseorang masih diberi kesehatan oleh Allah SWT, kata dia, maka hal tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebajikan. Kesempatan hidup yang ada hari ini juga perlu dimaknai sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan sekadar menjalani rutinitas dunia.

Baca Juga :  Lorong Pendidikan dan Suara Wayang yang Menolak Diam

Ia pun mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Menurutnya, membaca kitab suci saja sudah bernilai ibadah, terlebih jika diiringi dengan upaya memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Di tengah dinamika kehidupan modern, pesan yang disampaikan melalui pantun tersebut terasa relevan: dunia memang indah, tetapi ia memiliki batas. Sementara kehidupan akhirat adalah tujuan akhir dari perjalanan manusia.

Melalui refleksi Ramadhan, umat diingatkan kembali untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dengan persiapan menuju kehidupan yang lebih abadi.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemkot mataram

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:38 WITA

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA