Ramadhan, Kepemimpinan, dan Makna Pembangunan Kota Mataram

Minggu, 8 Maret 2026 - 12:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Mataram harus tetap menjadi tempat yang nyaman dan selalu dirindukan oleh warganya (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Kota Mataram harus tetap menjadi tempat yang nyaman dan selalu dirindukan oleh warganya (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ramadhan selalu menghadirkan ruang perjumpaan yang berbeda antara pemimpin dan masyarakat. Tidak hanya dalam bentuk agenda seremonial, tetapi juga sebagai momentum refleksi tentang arah pembangunan dan makna kepemimpinan.

Hal itu terasa dalam rangkaian kegiatan Safari Ramadhan Pemerintah Kota Mataram yang digelar di sejumlah masjid, di antaranya di Masjid Baiturrahim Seganteng Gubuk Pande (Jumat, 06/03/2026) dan Masjid Nurussalam Pesongoran (Sabtu, 07/03/2026), yang menjadi titik pertemuan antara pemerintah dan warga.

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menegaskan bahwa pembangunan kota tidak semata-mata diukur dari berdirinya gedung, jalan, dan fasilitas publik. Lebih dari itu, pembangunan harus menyentuh dimensi mentalitas masyarakat serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kota yang maju bukan hanya kota dengan infrastruktur yang modern, tetapi juga kota yang dihuni oleh masyarakat yang memiliki sikap, perilaku, dan pola pikir yang berkembang.

“Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari sikap, perilaku, serta pola pikir masyarakatnya,” ujarnya dalam kegiatan Safari Ramadhan di Masjid Baiturrahim, Lingkungan Seganteng Gubuk Pande, Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota sejatinya merupakan proses yang panjang dan berkelanjutan. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan, menjaga, dan menyempurnakan apa yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya.

Dalam konteks itu, Mohan Roliskana juga mengingatkan bahwa tantangan pembangunan di masa depan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik kota, tetapi juga bagaimana mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.

Perkembangan teknologi, perubahan pola ekonomi, serta dinamika sosial yang semakin kompleks menuntut kualitas sumber daya manusia yang lebih baik. Karena itu, karakter, pendidikan, dan nilai-nilai sosial masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan pembangunan berjalan secara seimbang.

“Karakter dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting agar pembangunan dapat berjalan beriringan antara kemajuan infrastruktur dan kematangan sosial masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga mengingatkan bahwa Kota Mataram tidak dibangun dalam satu masa kepemimpinan saja. Ia menyebut sejumlah tokoh yang pernah memimpin kota ini dan meletakkan dasar-dasar pembangunan, seperti Lalu Mudjitahid, Lalu Mas’ud, Mohammad Ruslan, hingga Ahyar Abduh.

Para pemimpin terdahulu, menurutnya, telah menanamkan fondasi pembangunan yang menjadi pijakan bagi generasi pemimpin berikutnya.

Baca Juga :  Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram

“Dasar-dasar pembangunan kota ini telah diletakkan oleh para pemimpin sebelumnya dengan kebijakan yang arif dan bijaksana. Tugas kami saat ini adalah melanjutkan proses pembangunan tersebut,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kota merupakan proses estafet yang melibatkan banyak generasi. Tidak ada satu pemimpin yang membangun kota sendirian.

Setiap periode kepemimpinan hanya menjadi satu mata rantai dalam perjalanan panjang pembangunan.

Dalam rangkaian Safari Ramadhan, di kedua tempat tersebut, Pemerintah Kota Mataram juga menyalurkan sejumlah bantuan bagi Masyarakat setempat. Bantuan itu antara lain dana pembangunan masjid sebesar Rp25 juta, bingkisan bagi jamaah, santunan bagi marbot, bantuan bagi guru ngaji dan majelis taklim, serta bantuan modal usaha dan gerobak usaha yang disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kota Mataram.

Bantuan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Safari Ramadhan tidak hanya berisi ceramah dan silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Baiturrahim, Muhlis, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran rombongan pemerintah kota dalam kegiatan tersebut. Bagi jamaah, kunjungan pemerintah bukan hanya simbol perhatian, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan antara pemimpin dan masyarakat.

Para pemimpin terdahulu, menurutnya, telah menanamkan fondasi pembangunan yang menjadi pijakan bagi generasi pemimpin berikutnya (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

“Kunjungan Safari Ramadhan dari Pemerintah Kota Mataram tentu menjadi kebahagiaan bagi kami semua,” ujarnya.

Harapan yang sama juga disampaikan agar kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung di masa mendatang sebagai sarana memperkuat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat.

Safari Ramadhan kemudian berlanjut ke Masjid Nurussalam Pesongoran di Lingkungan Pesongoran, Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Safari Ramadhan Pemerintah Kota Mataram tahun ini.

Dalam kesempatan tersebut, Mohan Roliskana menyampaikan refleksi yang lebih mendalam tentang makna kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa jabatan yang diembannya bersama Wakil Wali Kota Mujiburrahman merupakan amanah dari masyarakat.

Karena itu, masyarakat memiliki hak untuk mengoreksi bahkan mencabut kepercayaan jika pemimpin tidak lagi mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kepemimpinan dalam sistem demokrasi sejatinya berangkat dari kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan masyarakat, legitimasi kepemimpinan akan melemah.

Baca Juga :  Lorong-Lorong Kreativitas di SMAN 8 Mataram

Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuan administratif atau kapasitas mengelola pemerintahan. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu menghadirkan inspirasi dan perubahan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.

“Seorang pemimpin harus mampu menghadirkan perubahan yang membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, sekaligus menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh warga,” tegasnya.

Ia juga kembali menekankan bahwa pembangunan kota harus memperhatikan keseimbangan antara aspek fisik, ekonomi, dan pembangunan manusia. Kota yang maju secara fisik, tetapi masyarakatnya tertinggal dalam kualitas pendidikan, karakter, dan nilai sosial, tidak akan menghasilkan kemajuan yang utuh.

Karena itu, menurutnya, kekuatan spiritual dan nilai-nilai sosial masyarakat harus tetap dijaga sebagai bagian penting dari pembangunan kota.

Pada bagian akhir sambutannya, Wali Kota mengajak masyarakat untuk terus merawat Kota Mataram sebagai rumah bersama. Kota ini, katanya, harus tetap menjadi tempat yang nyaman dan selalu dirindukan oleh warganya.

Suasana Safari Ramadhan itu kemudian mencair ketika Mohan Roliskana menutup sambutannya dengan sebuah pantun ringan yang mengundang tawa jamaah.

“Ibu-ibu pagi-pagi goreng tempe,

Siang-siang belah semangka,

Kalau ibu-ibu sudah pegang HP,

Hati-hati jangan sampai melewatkan hidangan berbuka.”

Pantun tersebut membuat suasana masjid menjadi lebih hangat. Tawa dan tepuk tangan jamaah menjadi penutup yang ringan bagi pertemuan yang sarat pesan tentang kepemimpinan dan pembangunan kota.

Di tempat yang sama, Kepala Lingkungan Pesongoran, Khaerul Subandi, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Mataram atas berbagai program yang dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya bagi pelaku usaha kecil.

Menurutnya, berbagai bantuan sosial, bantuan tunai maupun non-tunai, serta program pemberdayaan UMKM telah dirasakan langsung oleh warga di lingkungannya.

Pada akhirnya, rangkaian Safari Ramadhan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kota bukan hanya soal proyek dan anggaran. Ia juga menyangkut hubungan yang hangat antara pemerintah dan masyarakat, kepercayaan yang dijaga, serta komitmen bersama untuk membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Ramadhan, dalam konteks itu, menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa pembangunan kota tidak hanya membutuhkan rencana dan kebijakan, tetapi juga hati yang bersedia mendengar serta tangan yang siap bekerja bersama masyarakat.**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:38 WITA

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA