CERAKEN.ID — Di tengah riuh persiapan menyambut Idulfitri, Pemerintah Kota Mataram memilih mengambil jeda; bukan untuk melambat, melainkan untuk lebih waspada. Dalam rapat koordinasi menjelang libur panjang, Senin (16/03/2026), Wali Kota H Mohan Roliskana menyampaikan pesan yang bernuansa kehati-hatian: bersiap menghadapi potensi tekanan ekonomi yang kian terasa di horizon.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Sinyal kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diprediksi akan merambat pada lonjakan harga kebutuhan pokok. Dalam situasi seperti ini, pemerintah daerah dituntut tidak sekadar responsif, tetapi juga antisipatif.
“Tidak ada salahnya kita mulai bersiap-siap,” ujarnya di hadapan jajaran pejabat, mulai dari Sekretaris Daerah hingga lurah se-Kota Mataram.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, yang menarik, kehati-hatian itu tidak dibingkai sebagai kepanikan. Mohan bahkan menegaskan bahwa dirinya tidak sedang “berbagi kegalauan”, melainkan mengajak seluruh perangkat daerah membaca tanda-tanda zaman; baik dari dinamika global hingga kebijakan nasional yang mulai mengarah pada pola kerja fleksibel seperti Work From Anywhere (WFA).
Situasi ini, baginya, mengingatkan pada fase awal pandemi COVID-19, ketika ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian.
Dari sinilah, langkah konkret mulai dirumuskan: penghematan anggaran. Instruksi itu jelas, tetapi tidak kaku.
Pengurangan kegiatan seremonial dan efisiensi penggunaan BBM menjadi prioritas, tanpa mengorbankan layanan publik yang bersifat esensial. Armada pengangkut sampah, pekerjaan infrastruktur, hingga kebutuhan logistik darurat tetap harus berjalan tanpa gangguan.
Pilihan untuk tidak menggelar open house pribadi saat Idulfitri menjadi simbol kecil dari arah kebijakan tersebut. Alih-alih perayaan terpisah, Wali Kota memilih menggabungkannya dalam satu momentum halal bihalal bersama Wakil Wali Kota, Sekda, dan seluruh aparatur sipil negara.
Sebuah keputusan yang tidak hanya mencerminkan efisiensi, tetapi juga menghadirkan makna silaturahmi yang lebih sederhana dan khidmat.
Di sisi lain, perhatian pemerintah kota tidak berhenti pada aspek ekonomi. Momentum hari raya, yang selalu identik dengan lonjakan aktivitas masyarakat, juga menjadi perhatian serius.
Tahun ini, Mataram dihadapkan pada dua perayaan besar yang berdekatan: pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi dan pawai takbir menyambut Idulfitri.
Beruntung, keduanya tidak berlangsung pada waktu yang sama. Namun demikian, potensi keramaian tetap memerlukan pengelolaan yang cermat.
Pemerintah kota pun didorong untuk memperkuat koordinasi dengan aparat Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia guna menjaga kondusivitas kota.
“Keramaian pasti ada, aktivitas masyarakat meningkat. Karena itu kita harus mencegah persoalan yang bisa memantik hal-hal negatif,” tegas Mohan.
Selain keamanan, wajah kota juga menjadi perhatian. Taman-taman kota diminta tetap terawat, sementara petugas kebersihan disiagakan agar ritme pengangkutan sampah tidak terganggu selama libur panjang.
Dalam konteks ini, kebersihan bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari pelayanan publik yang langsung dirasakan masyarakat.
Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Mataram sejatinya adalah upaya menjaga keseimbangan: antara efisiensi dan pelayanan, antara kewaspadaan dan ketenangan, antara perayaan dan keteraturan. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, langkah-langkah kecil seperti penghematan dan penguatan koordinasi justru menjadi fondasi penting.
Sebab pada akhirnya, kota tidak hanya diukur dari seberapa meriah perayaannya, tetapi juga dari seberapa siap ia menjaga warganya bahkan ketika ancaman belum sepenuhnya nyata.*
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun ppid kota mataram































































