CERAKEN.ID — Suasana religius menyelimuti Aula Lantai 3 Kantor Wali Kota di Mataram, Senin (9/3/2026). Aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kota Mataram berkumpul dalam peringatan Nuzulul Qur’an, sebuah momentum spiritual yang setiap tahun hadir pada pertengahan bulan suci Ramadan.
Di tengah rutinitas pemerintahan yang padat, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi para aparatur pemerintah. Bukan sekadar agenda keagamaan tahunan, tetapi juga pengingat tentang nilai-nilai spiritual yang seharusnya menjadi fondasi dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
Wali Kota Mohan Roliskana menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak seharusnya dimaknai sebagai seremoni formal semata. Lebih dari itu, peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW merupakan pengingat tentang pentingnya menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan, termasuk dalam menjalankan tanggung jawab pemerintahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, tradisi yang setiap tahun dilaksanakan ini harus mampu memberikan pemaknaan yang lebih mendalam bagi setiap aparatur. Nilai keimanan, kejujuran, serta tanggung jawab moral yang terkandung dalam ajaran Al-Qur’an seharusnya tercermin dalam cara aparatur melayani masyarakat.
“Tradisi ini kita laksanakan bukan semata-mata untuk menggugurkan kewajiban, tetapi agar kita bisa mengambil pemaknaan dan hikmah dari kegiatan yang setiap tahun kita jalankan ini,” ujarnya.
Momentum ini terasa semakin bermakna karena bulan Ramadan telah memasuki pertengahan waktu. Bagi umat Islam, fase ini sering dipandang sebagai periode yang menentukan kualitas ibadah selama sebulan penuh. Setelah melewati separuh perjalanan Ramadan, setiap individu diharapkan mampu meningkatkan kesungguhan dalam beribadah sekaligus memperbaiki diri.
Wali Kota mengingatkan bahwa waktu dalam bulan suci terasa berjalan begitu cepat. Karena itu, sisa hari yang ada seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas spiritual.
“Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang kita sudah melewati setengah perjalanan Ramadan. Sisa waktu ini menjadi kesempatan yang besar keberkahannya bagi kita semua untuk melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Namun Ramadan bukan hanya soal ibadah personal. Dalam kehidupan masyarakat, pertengahan hingga akhir Ramadan juga sering diwarnai oleh meningkatnya aktivitas sosial dan ekonomi. Pasar-pasar menjadi lebih ramai, kegiatan berbagi semakin intens, dan interaksi sosial masyarakat meningkat.

Dalam situasi seperti ini, menurut Mohan Roliskana, dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapi berbagai dinamika yang muncul di tengah masyarakat. Aparatur pemerintah diharapkan mampu menjaga ketenangan, ketertiban, serta menjadi teladan dalam membangun suasana yang harmonis.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersamaan di lingkungan Pemerintah Kota Mataram. Kekompakan antar aparatur dinilai sebagai salah satu modal utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Dalam konteks pelayanan publik, kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui program pembangunan, tetapi juga melalui sikap dan integritas para aparatur pemerintah. Harmonisasi internal birokrasi menjadi fondasi penting agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan secara optimal.
“Modal kita untuk membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat adalah kebersamaan. Karena itu saya berpesan, tetap jaga kekompakan, jaga harmonisasi, dan jangan sampai ada yang terbelah-belah,” tegasnya.
Di era digital, tantangan lain yang dihadapi aparatur pemerintah adalah derasnya arus informasi di media sosial. Informasi dapat menyebar dengan sangat cepat, tetapi tidak semuanya memiliki tingkat kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, Wali Kota mengingatkan agar para aparatur pemerintah bersikap bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Kemampuan memilah fakta dan opini menjadi sangat penting agar tidak terjebak dalam arus disinformasi yang dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kita harus mampu mengendalikan diri dalam menerima dan menyebarkan informasi. Kadang-kadang hal yang faktual justru diputarbalikkan sehingga kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang tidak,” ungkapnya.
Peringatan Nuzulul Qur’an tersebut juga diisi dengan tausiyah keagamaan yang mengangkat hikmah turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia. Pesan-pesan spiritual yang disampaikan diharapkan mampu memperkuat nilai moral para aparatur, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Mataram berupaya menghadirkan keseimbangan antara tanggung jawab administratif dan penguatan nilai spiritual. Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks, refleksi keagamaan seperti ini menjadi pengingat bahwa pelayanan publik pada hakikatnya juga merupakan bagian dari pengabdian.
Pada akhirnya, semangat Nuzulul Qur’an bukan hanya tentang mengenang peristiwa turunnya wahyu, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat hidup dalam tindakan sehari-hari, termasuk dalam cara pemerintah melayani masyarakat dengan penuh integritas, kebersamaan, dan tanggung jawab.**
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun ppid kota mataram































































