Merawat Kota Lewat Silaturahmi: Makna Safari Ramadhan di Periode Kedua Kepemimpinan Mohan–Mujib

Senin, 9 Maret 2026 - 11:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perjalanan simbolik yang merefleksikan arah kepemimpinan dan visi pembangunan kota (Foto: ppid kota mataram/ceraken,id)

Perjalanan simbolik yang merefleksikan arah kepemimpinan dan visi pembangunan kota (Foto: ppid kota mataram/ceraken,id)

CERAKEN.ID — Bulan Ramadhan selalu menghadirkan ruang perjumpaan yang khas antara pemimpin dan masyarakat. Di tengah kesibukan pemerintahan serta dinamika kota yang terus berkembang, momen ini menjadi kesempatan untuk kembali merajut kedekatan sosial.

Itulah yang tampak dalam rangkaian Safari Ramadhan 2026/1447 Hijriah yang kembali digelar Pemerintah Kota Mataram di bawah kepemimpinan H. Mohan Roliskana bersama Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman.

Safari Ramadhan bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ia adalah tradisi pemerintahan yang menghubungkan ruang kekuasaan dengan ruang sosial masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui kegiatan ini, pemerintah hadir langsung di tengah warga, mendengar aspirasi, sekaligus memperkuat ikatan emosional antara negara dan masyarakat di tingkat paling dekat, masjid dan lingkungan tempat tinggal.

Pada tahun ini, Safari Ramadhan Pemerintah Kota Mataram menjangkau sejumlah wilayah kota, menyapa jamaah di berbagai masjid yang tersebar di beberapa kecamatan.

Rangkaian kunjungan dimulai pada Senin (2/3/2026) di Masjid Al Jihad, Lingkungan Sukaraja Timur, Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan. Dalam kesempatan tersebut, Mohan Roliskana mengingatkan pentingnya merawat kerukunan dan semangat kekeluargaan di tengah dinamika kehidupan kota yang semakin kompleks.

Pesan tersebut bukan tanpa alasan. Kota Mataram sebagai pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan, dan pendidikan di Nusa Tenggara Barat menghadapi tantangan sosial yang semakin beragam.

Perbedaan latar belakang sosial, budaya, hingga kepentingan ekonomi dapat dengan mudah memunculkan potensi friksi. Karena itu, menurut Mohan, kerukunan bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan harus terus dirawat oleh seluruh elemen masyarakat.

Safari Ramadhan kemudian berlanjut ke Masjid Al Mujahidin di kawasan Perumnas, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela pada Selasa (3/3/2026). Di hadapan jamaah, Mohan kembali menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial tahunan yang bersifat simbolik.

Ia menilai Safari Ramadhan memiliki fungsi strategis sebagai ruang komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui pertemuan seperti ini, pemerintah tidak hanya menyampaikan program, tetapi juga menyerap dinamika yang terjadi di lingkungan warga. Dalam konteks pemerintahan modern, komunikasi dua arah seperti ini menjadi penting agar kebijakan yang diambil tidak terlepas dari realitas sosial masyarakat.

Pada Rabu (4/3/2026), rombongan Safari Ramadhan mengunjungi Masjid Al Hidayah di Lingkungan Arong-Arong Timur, Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang. Dalam kesempatan ini, Mohan menyoroti kondisi Kota Mataram yang relatif kondusif selama bulan Ramadhan.

Baca Juga :  Ketika Kreativitas Fiskal Menjadi Wajah Baru Pemerintahan Daerah

Aktivitas ibadah berjalan dengan baik, sementara kegiatan sosial masyarakat juga berlangsung dengan aman dan tertib.

Kondisi ini menjadi indikator penting bahwa stabilitas sosial di Kota Mataram masih terjaga. Stabilitas tersebut tidak hanya bergantung pada aparat keamanan atau pemerintah semata, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga ketertiban bersama.

Keesokan harinya, Kamis (5/3/2026), Safari Ramadhan berlanjut ke Masjid Nurul Jadid di Lingkungan Lendang Lekong, Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya. Di tempat ini, Mohan menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat sebagai “penerang” di tengah kehidupan warga.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para penggerak sosial memiliki posisi strategis dalam membangun harmoni sosial. Mereka bukan hanya menjadi panutan dalam kehidupan spiritual, tetapi juga menjadi rujukan moral dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial di tingkat lingkungan.

Pesan yang lebih reflektif disampaikan Mohan ketika rombongan Safari Ramadhan mengunjungi Masjid Baiturrahim di Lingkungan Seganteng Gubuk Pande, Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara pada Jumat (6/3/2026). Ia menegaskan bahwa pembangunan kota tidak semata-mata diukur dari berdirinya gedung, jalan, atau fasilitas publik.

Menurutnya, pembangunan sejati harus menyentuh dimensi mentalitas masyarakat serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Infrastruktur memang penting, tetapi tanpa perubahan mentalitas dan peningkatan kualitas manusia, pembangunan fisik tidak akan memberikan dampak yang berkelanjutan.

Rangkaian Safari Ramadhan ditutup pada Sabtu (7/3/2026) di Masjid Nurussalam, Lingkungan Pesongoran, Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram. Dalam kesempatan ini, Mohan menyampaikan refleksi yang lebih mendalam tentang makna kepemimpinan.

Ia menegaskan bahwa jabatan yang diembannya bersama Wakil Wali Kota Mujiburrahman merupakan amanah dari masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan dan langkah pemerintahan harus selalu berpijak pada kepentingan warga.

Refleksi tersebut menjadi semakin relevan mengingat saat ini kepemimpinan Mohan–Mujib telah memasuki periode kedua. Dalam konteks politik lokal, periode kedua sering kali menjadi fase konsolidasi sekaligus pembuktian atas visi yang telah dicanangkan sebelumnya.

Safari Ramadhan dalam situasi ini memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya kegiatan keagamaan atau tradisi sosial, tetapi juga menjadi simbol pendekatan kepemimpinan yang menempatkan kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama pemerintahan.

Baca Juga :  Ketika Mataram Menjadi Ruang Belajar Digital bagi Daerah Lain

Selain silaturahmi dan dialog, rangkaian Safari Ramadhan juga diisi dengan penyaluran berbagai bantuan bagi masyarakat. Pemerintah Kota Mataram memberikan dana pembangunan masjid sebesar Rp25 juta, bingkisan bagi jamaah, santunan bagi marbot, bantuan bagi guru ngaji dan majelis taklim, serta bantuan modal usaha dan gerobak usaha yang disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kota Mataram.

Bantuan tersebut tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga mencerminkan kehadiran negara dalam mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam konteks bulan Ramadhan, bantuan ini menjadi simbol solidaritas sosial antara pemerintah dan warga.

Jika dicermati secara lebih dalam, rangkaian Safari Ramadhan tersebut menggambarkan tiga pesan utama dari kepemimpinan Mohan–Mujib pada periode kedua ini.

Pertama, pentingnya merawat kohesi sosial di tengah masyarakat kota yang semakin majemuk. Kerukunan dan semangat kekeluargaan menjadi fondasi bagi stabilitas sosial yang memungkinkan pembangunan berjalan dengan baik.

Kedua, perlunya komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat. Melalui dialog langsung seperti dalam Safari Ramadhan, pemerintah dapat memahami kebutuhan warga secara lebih nyata, sementara masyarakat dapat melihat secara langsung komitmen pemerintah dalam melayani mereka.

Ketiga, pembangunan kota harus berorientasi pada manusia. Infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi kualitas sumber daya manusia dan kekuatan nilai-nilai sosial tetap menjadi penentu utama keberhasilan pembangunan jangka panjang.

Dengan demikian, Safari Ramadhan tidak sekadar perjalanan kunjungan dari satu masjid ke masjid lainnya. Ia adalah perjalanan simbolik yang merefleksikan arah kepemimpinan dan visi pembangunan kota.

Di tengah tantangan urbanisasi, perubahan sosial, dan tuntutan pembangunan yang semakin kompleks, pendekatan yang menempatkan silaturahmi sebagai fondasi kepemimpinan menjadi pengingat bahwa kota tidak hanya dibangun dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan kepercayaan, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi Kota Mataram, rangkaian Safari Ramadhan 2026 mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun pesan yang dibawanya tentang amanah kepemimpinan, pembangunan manusia, dan pentingnya menjaga harmoni sosial, akan terus menjadi relevan sepanjang perjalanan kota ini ke masa depan. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:38 WITA

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA