CERAKEN,ID — Ramadhan selalu membawa satu rasa yang sulit dijelaskan: rindu. Rindu pada suasana bulan suci yang penuh rahmat, rindu pada suara azan magrib yang dinanti bersama, dan rindu pada hangatnya kebersamaan keluarga yang mungkin hanya dapat dirasakan setahun sekali.
Bagi para perantau, kerinduan itu sering kali memuncak menjelang Idulfitri. Mereka yang bekerja, menempuh pendidikan, atau mencari penghidupan di kota-kota besar mulai menghitung hari untuk pulang ke kampung halaman.
Dalam perjalanan pulang itu, bukan hanya tubuh yang bergerak menuju rumah, tetapi juga ingatan dan harapan yang telah lama disimpan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sudut-sudut kos, rumah kontrakan, hingga asrama mahasiswa, berbagai persiapan dilakukan. Tas-tas besar mulai diisi pakaian, oleh-oleh, dan berbagai barang yang akan dibawa pulang.
Di dalamnya terselip buah tangan sederhana bagi orang tua, saudara, atau tetangga yang menunggu di kampung halaman. Semua itu seolah menjadi simbol kecil dari rindu yang ingin disampaikan.
Di Kota Mataram, kerinduan para perantau itu mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang ingin mudik, pemerintah kota kembali menyelenggarakan program Mudik Gratis bagi warga asal Pulau Sumbawa yang berdomisili di Mataram.
Program tersebut ditujukan bagi pemudik yang hendak pulang ke sejumlah daerah di Pulau Sumbawa, seperti Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, dan Kota Bima. Pada tahun 2026 atau 1447 Hijriah ini, sebanyak 250 orang pemudik diberangkatkan secara gratis oleh pemerintah kota.
Pelepasan peserta mudik berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Mataram, Senin (16/03/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Mudik Seru dengan HARUM” itu dilepas secara resmi oleh Mohan Roliskana, Wali Kota Mataram, dan disaksikan oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Mataram, perwakilan Bank NTB Syariah, Perum DAMRI, serta Jasa Raharja.
Dalam suasana yang sederhana namun hangat, para pemudik tampak bersiap menaiki bus yang akan membawa mereka kembali ke kampung halaman. Sebagian memeluk tas besar, sebagian lagi menggenggam ponsel untuk mengabarkan kepada keluarga bahwa perjalanan pulang segera dimulai.
Dalam sambutannya, Wali Kota Mataram menyampaikan bahwa kepulangan para pemudik bukan sekadar perjalanan biasa. Mudik adalah momentum untuk melepas rindu, mempererat silaturahmi, sekaligus merayakan kebersamaan dalam suasana Ramadhan dan Idulfitri yang penuh keberkahan.
Menurutnya, kebahagiaan bertemu keluarga di kampung halaman adalah sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Program mudik gratis ini juga menandai komitmen pemerintah kota dalam membantu masyarakat perantau. Tahun ini merupakan tahun kedua pelaksanaan program tersebut.
Pada tahun sebelumnya, kegiatan ini masih bersifat proyek percontohan dengan jumlah armada yang terbatas. Namun setelah melihat antusiasme masyarakat, pemerintah kota memutuskan untuk menambah jumlah armada agar lebih banyak warga yang dapat menikmati fasilitas tersebut.
“Tahun kemarin kita laksanakan sebagai proyek awal dengan empat armada. Tahun ini saya meminta kepada Dinas Perhubungan agar jumlah armada ditambah, dan alhamdulillah dapat direalisasikan menjadi enam armada,” ujar Wali Kota.
Penambahan armada itu bukan hanya soal jumlah bus, tetapi juga bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan akses mudik yang aman dan terjangkau.
Di balik roda bus yang mulai bergerak meninggalkan halaman kantor wali kota, tersimpan banyak cerita.
Ada mahasiswa yang ingin memeluk ibunya setelah sekian bulan kuliah jauh dari rumah. Ada pekerja yang ingin kembali merasakan masakan kampung halaman. Ada pula orang tua yang menunggu anaknya pulang setelah lama merantau.
Mudik, pada akhirnya, bukan sekadar perjalanan dari kota ke desa. Ia adalah jalan pulang menuju kenangan, keluarga, dan identitas. Dan di bulan Ramadhan, jalan pulang itu selalu terasa lebih bermakna.(*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun pemkot mataram































































